Selamatkan Aku

Aside

Pening di kala hening
Bangun di tengah genting
Mata yang belum bening
Akal yang mulai sinting

Selamatkan aku
Dari kegelapan dan keangkuhan
Selamatkan aku
Tarik jemariku enyahkan takutku

Tiada bayang terlihat
Tiada cinta memikat
Melodi runtuh derajat
Terbungkus hitam pekat

Selamatkan aku
Dari kegelapan dan keangkuhan
Selamatkan aku
Tarik jemariku enyahkan takutku

Selamatkan aku
Dunia fana ini menjerat nadiku
Selamatkan aku
Hidupkan lentera dalam hatiku

Di telaga kerinduan
Ingin kau menungguku
Bersama mencabut pasak
Yang menahan derita

Desir darah ini
Angin lembut ini
Sedetik di belakang
Aku tak ingin mati sekarang
Genggamlah
Jangan tanggalkan
Dan kumohon

Selamatkan aku
Dari kegelapan dan keangkuhan
Selamatkan aku
Tarik jemariku enyahkan takutku

Surabaya, 14 Mei 2015

Advertisements

Dia Lupa

Aside

Indah tak seindah keindahan
Ketika aku masih bersamamu
Tentram tak sedamai tentram
Ketika jemari mungilmu memeluk mesra penuh kehangatan
Di malam yang syahdu

Janji yang kau ikrarkan malam itu
Tentang pelaminan dan kebahagiaan
Menguap entah kemana

Aku bertaruh kau lupa segalanya
Meski keabadian menyelimuti ingatan
Aku ingin tetap bersabar
Menunggu jawaban cinta

Surabaya, 30 April 2015

Menghitam

Aside

Tak tahu kapan berakhir
Senandung pilu sesurat takdir
Pada kebekuan aku berdiri
Menghitung nama demi nama
Tersisih tersampahkan
Mungkin aku terlalu arogan
Mengulur hingga ufuk jauh
Hingga tak kuasa lagi direngkuh
Pun ragaku hampir pingsan
Matahari cerah bersamaku turut menghitam
Ya…
Aku adalah peniru ulung
Yang jatuh cinta pada sifat agung
Mengeja makna
Di antara ceceran aksara buta
Keramat dosa
Entah…
Aku ingin lari
Terus hingga mendekap sunyi
Terus tak tahu tujuan pasti
Aku hanya ingin lari
Meski kaki tak mampu melangkah kini

Surabaya, 11 April 2015

Jendela Berdebu

Aside

Menerawang jauh di balik jendela berdebu
Sesaat setelah bangun dari kemustahilan mimpi
Langit cerah tak secerah suasana kalbu
Mengayuh roda kehidupan fana yang tak berperi
Di antara kubangan frasa-frasa gila pelipur duka
Semakin pagi dagu semakin menjemput dada

Mega-mega indah ilusif
Bintang-bintang imajinatif
Kujadikan kawan halusinatif
Becengkrama abaikan takyif

Pelitaku
Enggankah menghampiriku
Aku telah lama terdiam beku
Menunggu senyum sapamu
Tuk kujadikan lentera hatiku
Agar tak sesat dalam langkahku
Menuju penantian terakhirku

Surabaya, 28 Maret 2015

Mantan

Aside

Terik matahari buta pukul dua belas siang
Membakar di tengah himpitan gedung tak tertata
Dedaun kering gugur terbang ke alam lepas
Melepas ikatan murni berbalut cinta bertabur asa

Cinta yang dulu menggenang indah bagai telaga kausar
Terbakar terik hingga kering tak berbekas
Mahligai percintaan penuh bintang yang bersinar
Kini padam tak berona tanpa tumpu harapan

Dinding terjal takdir membelah keutuhan cinta
Dua insan yang dahulu memupuk sejuta impian
Mengikat simpul dalam naungan tenda biru muda
Penuh gelora asmara tak acuhkan apa walau mengancam

Siang yang bernasib sama dengan dedaunan
Hanya mampu mengukur jarak tempuh yang tersisa
Ikhlas pasrah memandang pahit perpisahan
Ketika sepi, mainkan kembali rekam-rekam kenangan
Berharap langit turunkan keajaiban
Agar kembali bersama menata puing-puing cinta
Untuk habiskan sisa usia bersama sang belahan jiwa
Berdua berbagi cinta hingga kembali ke pangkuan-Nya

Surabaya, 26 Maret 2015

Tersesat

Aside

Desir angin tak terasa lagi
Riuh dunia terlelap sunyi
Di mana kini aku berdiri
Tiada sapa yang menghampiri

Kedamaian apa yang kuarungi
Buatku ragu pada diri sendiri
Tak sesunyi ini
Tak sehampa ini

Ku tersesat tanpa arah pasti
Terbuang raga dan jiwa kini
Entah apa yang kini terjadi
Alam apa yang menjebak diri

Kedamaian apa yang kuarungi
Buatku ragu pada diri sendiri
Tak sesunyi ini
Tak sehampa ini
Selamatkan aku pergi dari sini
Ku ingin kembali
Ku ingin kembali

Surabaya, 22 Maret 2015

Aku Hanya Penjaga Museum

Aside

Pedih dan marah berpadu
Mendengar kesaksianmu
Tak terlintas dalam pikirku
Teganya kau buatku malu

Apalah dayaku, sayang? Usapan terlembutku dapat menghapus air mata sekaligus raut memelas yang kau pajang. Bahkan tiupan kecil mampu samarkan gura aksara pada prasasti yang kau sebut renungan.

Aku hanya sanggup memandang di balik lembaran kaca yang membatasi takdir kita, sambil menghaturkan sembah kupinta pada Sang Kuasa agar kita kembali bersama. Seperti dulu kala, hidup berdua di sela-sela bukit dan rimba.

Tapi kau terlalu rapuh sayang, terlalu sibuk menyesali kehidupan yang kau pandang kejam. Mengabaikan aku yang senantiasa mengelus pundakmu, berharap agar kau tabah selalu.

Maaf jika aku menjebakmu dalam buruknya prasangka, tapi ketahuilah bahwa sesungguhnya perpisahan ini adalah uji kesetiaan untuk kita berdua.

Surabaya, 19 Maret 2015