Untitled Democracy

Aside

Detik-detik aku bersaksi
Di depan jutaan manusia pertiwi
Aku akan setia mengabdi
Pantang lalim menipu dan korupsi

Dinding kedigdayaaan di sekeliling istana raja
Buatku lupa akan jerit tangis bangsa
Yang kurenggut tanpa mengerti makna biadab
Hancurkan asa setiap mereka yang menganggap dirinya beradab
Tanpa ampun
Kulangkahi setiap jiwa yang onar
Menganggap dirinya benar
Berteriak memaki dari luar pagar

Bangsat kalian para demonstran!
Terkutuklah dengan apa yang kalian lakukan!
Tak betahkah kalian melihat orang hidup nyaman
Lelah dengan musuh yang baru disingkirkan

Oh bunda…

Apa engkau melihat mereka
Tanpa malu buang harta serta pikiran
Hanya untuk menurunkan anakmu ini dari panggung kemakmuran
Setelah bertahun-tahun hidup dalam angan
Menguasai dunia tempat aku dulu dikerdilkan
Engkau tahu
Aku juga ingin jadi seperti mereka
Berfoya-foya dikala yang lain sengsara
Menari-nari diatas mereka yang hampir binasa

Bunda!
Apabila nyawaku diambil hari ini
Sedang hasrat ini masih ingin menguasai
Maka salahkan mereka yang menjeratku tempo hari
Menyeretku dalam lingkaran kebejatan politisi

Aku tidak salah
Aku hanya korban mereka yang serakah
Aku hanya bidak bedebah yang menyebutku anugerah
Aku tertipu dengan apa yang mereka sebut mewah

Maka jangan engkau vonis aku dengan tuduhan bersalah bunda!

Aku ini anakmu
Kau lahirkan aku
Kau yang memilihku
Meletakkan tanggung jawab dipundakku
Dan atas nama negara ini
Seharusnya kau potong lehermu sendiri…

Surabaya, 8 Oktober 2014

Advertisements

One thought on “Untitled Democracy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s