Aku Bukan Penjaga Museum

Aside

Ukiran namaku mungkin telah lenyap dalam prasasti di hatimu,
seperti lenyapnya untaian aksara pada pasir pantai yang tersapu
ombak samudera. Sungguh cepat, secepat hilangnya cintamu
yang dahulu kau kata kuat.

Pahatan wajahku mungkin juga telah aus dalam galeri di benakmu, terkikis habis tak mengenaliku lagi meski aku berdiri tepat di depan kelopak matamu. Sungguh ironis, pahatan
wajahmu yang coba kuhancurkan malah bertambah manis.

Bertepuk sebelah tangan, yang selama ini kurengkuh hanya
sebatas angan. Bertanya pada rumput yang bergoyang, tiada
jawaban lain selain gelengan tanda penolakan.

Inilah kesaksian punuk yang merindukan rembulan, tenggelam
dalam kelam untuk arti sebuah kepantasan.

Surabaya, 19 Maret 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s