Aku Hanya Penjaga Museum

Aside

Pedih dan marah berpadu
Mendengar kesaksianmu
Tak terlintas dalam pikirku
Teganya kau buatku malu

Apalah dayaku, sayang? Usapan terlembutku dapat menghapus air mata sekaligus raut memelas yang kau pajang. Bahkan tiupan kecil mampu samarkan gura aksara pada prasasti yang kau sebut renungan.

Aku hanya sanggup memandang di balik lembaran kaca yang membatasi takdir kita, sambil menghaturkan sembah kupinta pada Sang Kuasa agar kita kembali bersama. Seperti dulu kala, hidup berdua di sela-sela bukit dan rimba.

Tapi kau terlalu rapuh sayang, terlalu sibuk menyesali kehidupan yang kau pandang kejam. Mengabaikan aku yang senantiasa mengelus pundakmu, berharap agar kau tabah selalu.

Maaf jika aku menjebakmu dalam buruknya prasangka, tapi ketahuilah bahwa sesungguhnya perpisahan ini adalah uji kesetiaan untuk kita berdua.

Surabaya, 19 Maret 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s