Aku Bukan Penjaga Museum

Aside

Ukiran namaku mungkin telah lenyap dalam prasasti di hatimu,
seperti lenyapnya untaian aksara pada pasir pantai yang tersapu
ombak samudera. Sungguh cepat, secepat hilangnya cintamu
yang dahulu kau kata kuat.

Pahatan wajahku mungkin juga telah aus dalam galeri di benakmu, terkikis habis tak mengenaliku lagi meski aku berdiri tepat di depan kelopak matamu. Sungguh ironis, pahatan
wajahmu yang coba kuhancurkan malah bertambah manis.

Bertepuk sebelah tangan, yang selama ini kurengkuh hanya
sebatas angan. Bertanya pada rumput yang bergoyang, tiada
jawaban lain selain gelengan tanda penolakan.

Inilah kesaksian punuk yang merindukan rembulan, tenggelam
dalam kelam untuk arti sebuah kepantasan.

Surabaya, 19 Maret 2015

Di Pelataran Istana

Aside

Kerlip bintang ingin kugenggam
Tapi apa daya
Uluran tanganku hanya sebatas khayalan

Terang cahaya siang ingin kuraup
Tapi apa daya
Memandang saja mataku saja tak sanggup

Abdi-abdi malam di pelataran istana
Tersenyum kecut melihat tingkahku
Saat aku melamun dengan tatapan buta
Tepat kamar sang putri tatapanku tertuju

Keruh hati terasa sirna
Saat kulempar pandangku ke sana
Aku tak butuh jawaban
Akan rasaku pada sang rembulan
Biar angan menaungi
Agar lekas selesai puisi cinta ini

Surabaya, 17 Maret 2015

Katamu

Aside

Cinta itu…
Bisakah kutukar dengan permata di jarimu?
Bisakah kubeli berapapun yang kau mau?
Bisakah kupinjam sebentar, agar aku tak lagi galau karenamu?

Bisa…
Saat langit kehilangan biru
Ketika aku selesai menjamahmu
Tapi tunggulah peluhmu membeku
Pada ujung lekukan penuh haru
Bertopang pada untaian rindu
Kunanti jawaban atas perlakuanmu padaku

Apa…?
Tanyamu sambil melipat muka
Kata dan rasa tampak berbeda
Dalam diam kau berpura-pura
Berselimut doa, berbadan dosa
Tipumu sehalus tenunan sutra
Senyummu manis meraba jiwa
Tawamu, bahkan tangispun ikut tertawa

Terserah…!
Kau menyerahkan padaku, tapi kau bertindak semaumu
Kalau begitu terserah aku…!
Lalu kau diam lagi
Mengundang sunyi
Memaksaku bunuh diri

Surabaya, 14 Maret 2015

Aku dan Kematianmu

Aside

Mentari melambai pasrah di ujung cakrawala
Melebur bersama perbukitan cemara
Aku, dengan sebatang asa di tepian lembah fana
Hanya melirik sambil menutup tirai cita
Terkadang aku merasa puas, cahaya yang menyandingku selama ini berpaling dengan senyuman ceria

Tiada yang berharga jika hidup tak mengenal perpisahan
Meski hati membeku
Alam pikir terbuntu
Gerak tak lagi melaju

Aku, kau… Serta kematianmu

Rindu mendayu di tengah kerumunan pembisu
Bisikkan cerita manis dalam alunan nada syahdu
Buatku memejamkan mata
Dan menggumam tanpa suara
“Jika mentari baru muncul esok hari, katakan padanya bahwa aku telah mati”

Surabaya, 14 Maret 2014

Takkan Abadi

Aside

Tertulis jelas dalam lembaran angkasa
Usai sudah perjalanan hidup kita
Hening yang menghapuskan canda tawa
Biar gemakan cinta
Hingga kita bertemu lagi di lain dunia

Takkan lagi hijau bumi ini
Tanpa matahari menerangi

Cahaya indah bulan yang mulai memerah
Pupuskan keabadian dalam senyumnya
Namun semua itu hanya awal baginya
Yang mulai dewasa
Dalam menapak hijrah menuju luas semesta

Takkan lagi hidup hati ini
Tanpa engkau yang menemani

Jejakmu mulai sirna
Buat mataku membuta
Kehilangan arahnya
Bagai seekor domba
Dalam luas jagat raya

Takkan lagi aku kan mencari
Hanya kau yang slalu di hati
Kita tahu tiada yang abadi
Tapi cinta ini bebas kau miliki

Surabaya, 25 Februari 2015

Negeriku Jaya

Aside

Negeriku begitu jaya
Yang kaya gemar berderma
Yang miskin pamerkan harta
Yang muda kini tak lagi terkekang tata krama
Yang tua berlaku bebas tanpa batasan etika

Negeriku, penuh keadilan
Semua hukum boleh dirundingkan
Sangsi apapun boleh diuangkan
Tak peduli kriminal ataupun pemuka keagamaan
Seluruh rakyat pasti berhak mendapat suapan

Tapi, pada suatu saat negeriku tertimpa bencana
Amat besar hingga matapun tak berani memandangnya
Semua orang terlihat sibuk dengan dirinya
Lupa harta, lupa tahta hingga lupa keluarga
Mereka berlarian tak tentu kemana
Bersama jeritan liar yang pekakkan telinga
Tua muda miskin kaya kini tiada beda
Hanya keselamatan yang jadi kiblatnya
Sekalipun kejahatan menjadi jalan utamanya

Lalu setelah bencana mulai reda
Tiada lagi nyawa yang tersisa
Musnah sudah kemakmuran mereka
Usai sudah tawa riang mereka
Lenyap, tenggelam bersama mentari senja

Surabaya, 21 Februari 2015

Inilah Aku dengan Kemilau Palsuku

Aside

Kadang aku merasa rendah dengan kekuranganku di depannya, kadang aku merasa hina jika disandingkan dengan kesucian batinnya. Tapi haruskah aku menyesali kondisi yang melingkupiku?

Seakan aku memaksanya untuk ikut terjun dalam duniaku yang serba kumuh, menyeretnya masuk kedalam ruangan pengap penuh kehinaan.

Maafkan aku, telah membuatmu buta dengan kemilau palsuku. Ampuni kedurjanaanku dengan kesucian indahmu yang mengakar kuat dalam hatimu. Terimalah aku, karena kaulah alasan sesungguhnya mengapa aku masih ingin hidup. Mendekatlah padaku, seakan dunia terasa gelap tanpa cahaya cinta yang kau berikan tulus untuk diriku.